Mengintip sisi lain suasana lebaran di Jakarta


Inilah tahun pertama Indonesia mempunyai kesepakatan hari perayaan Idul Fitri yang serentak di hari yang sama, biasanya dari tahun ke tahun selalu ada Lebaran Hari 1 dan ke 2, karena sebagian orang menjalankan puasa lebih awal, dan sebagian lainnya menjalankan puasa di hari berikutnya, sesuai dengan keyakinan masing-masing dalam menghitung dan menafsirkan bulan…. kenapa bisa berbeda ya? Ya…setidaknya ada kemajuanlah…
Hari ini, aku harus ke Depok, maka bergegas aku mempersiapkan diri, mandi pk 8.19 dan bersiap-sipa memulai perjalananku ke Depok. Dalam hati aku bertanya-tanya, apakah kereta ke Depok akan berjalan sesuai dengan jadwal reguler? Atau terjadi penundaan? Tetap saja kakiku harus melangkah, karena aku harus bertemu rekan-rekan pukul 10 di sana.
Jakarta begitu sepi, kendaraan yang biasa lalu lalang memadati jalanan di depan kos dan depan Gajah Mada Plaza seakan lenyap di telan bumi… akupun dengan santai melenggangkan kaki menyeberangi jalanan yang nyaris kosong…bersyukur sekali, tidak seperti tahun lalu, tahun ini aku culup beruntung dapat memperoleh kendaraan tanpa menunggu lama…
Mikrolet M12 sudah menunggu di perempatan jalan dan langsung penuh, sehingga tidak perlu ngetem cari penumpang lagi. Kendaraanpun langsung melaju di jalan yang sepi. tak lama kemudian, sampailah aku di setasiun sawah besar. ku dengar berita, kereta ke Depok di Jakarta Kota kosong, akupun langsung beranjak ke lajur 1 menunggu kereta dari depok yang menuju jakarta kota. tidak perlu menunggu terlalu lama, keretapun tiba dan aku segera naik. Seperti biasanya, kereta Jurusan Kota, sampai di setasiun sawah besar biasanya agak kosong, sehingga akupun mendapatkan tempat duduk. Begitu sampai di Kota, segera kereta dipenuhi oleh penumpang yang menuju depok…. wah, untung aku naik dari sawah besar, kalau tidak…. pastilah aku berdiri sepanjang perjalanan kota-depok.
Pedagang asongan pun tak kalah lincah. Mereka segera naik kereta dan menawarkan dagangannya ”tahu..tahu…kacang… air..air’ dan fenomena lebaran pertama pun nampak di depan mata, menarik perhatianku. Seorang pedagang kaki lima hari ini berdagang dengan menggunakan pakaian baru, baju batik berwarna merah. Wah, ngga salah nih… dagang di dalam kereta ekonomi yang panasa dengan penumpang berjejal, ngapain pake baju baru? Batik pula???? Temanku berkata ‘mungkin ia baru pulang dari sholat Id, ya, inilah kesempatan ia memakai baju baru, setahun sekali, kapan lagi’ buatku tetap tidak ‘make sense’ kalau aku yang jadi pedagang itu, aku akan menyesuaikan kostumku. berdagang di kereta ekonomi, tidak perlu memakai baju batik yang rapi dan baru, cukup dengan pakaian rumahan saja… lebih baik baju itu kupakai untuk kunjungan silahturahmi ke rumah keluarga atau sanak dan teman… tetapi mungkin saja pedagang asongan tidak mempunyai waktu dan kesempatan untuk itu… ia hanya tahu bekerja dan bekerja mencari uang untuk sesuap nasi. Mungkin juga ia tidak mempunyai sanak keluarga di kota Jakarta ini… maka, setuju dengan temanku, biarlah ia menikmati lebaran dengan caranya sendiri, memaki baju batik baru untuk berdagang air minum di kereta… tidak ada salahnya, bahkan memberi pemandangan menarik, ketimbang melihat pedagang lain dengan pakaian yang kusam…. Para pengamen jalananpun hari ini tampil dengan pakaian yang lebih rapi. Walaupun pakaan bekas, aku yakin itu pakaian baru mereka, atau setidaknya pakaian terbaik yang mereka miliki hari ini…
Hari ini kulihat orang-orang di kereta lebih bermurah hati dan lebih mudah mengeluarkan isi dompetnya ketimbang hari biasanya. Anak-anak kecil tanpa pikir panjang, membeli apa saja yang ingin dibelinya, mengeluarkan uang dari sakunya berkali-kali. Orang dewasa dan anak-anak pun lebih murah hati kepada para pengemis dan pengamen yang lalu lalang… Memang pahalanya memberi sedekah di hari-hari seperti ini, jauuuuuuh lebih besar dari pada hari-hari biasa.. jadi, manfaatkanlah masa promo ini sebaik-baiknya, mungkin itulah filsafat mereka. Aku tidak tahu mana yang lebih baik? Lebih banyak bermurah hati memberikan uang kepada pengemis, atau menyalurkan dalam bentuk lain? Aku dengar penghasilan pengemis itu lumayan, mereka dari mengemis bisa mengirimkan uang untuk keluarga di kampung. Aku pernah membaca, pengemis di Batam bisa menghasilkan ratusan ribu sebulan hanya dengan mengemis, bahkan bisa membangun rumah mereka di kampung…. bukankah ini membuat orang malas bekerja? Aku lebih cenderung menyalurkan bantuan dalam bentuk lain.

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s