Fenomena Lebaran (Idul Fitri)


Kemarin malam adalah malam lebaran, aku ngga pulang karena sudah terlambat booking tiket, harga sudah terlalu tinggi…jadi berlebaran di jakartalah aku.. di tempat kos. Kemarin malam adalah malam takbiran. seharian hujan cukup deras. tetapi malam hari sekitar pukul delapan hujan sudah berhenti. Mulai terdengar sayup sayup suara orang takbiran, semakin lama semakin dekat. Aku melongok dari jendela kamarku yang kubuka sedikit. tampak jalan Hayam Wuruk di depan Gajah Mada Plaza mulai penuh kendaraan lalu lalang…. oooh, rupanya itulah jalur takbiran, tak lama kemudian aku melihat 3 bus belok ke arah jalan Zainul Arifin tempat aku tinggal. P12 metromini biru jurusan Kalideres – Senin, penuh sesak dengan penumpang, bahkan di atasnya pun, persis seperti penumpang kereta api kota-bogor kelas ekonomi… aku khawatir.. apa bis tidak layak paka itu ga bakalan penyok ditumpangi overloaded passangers, belum lagi yang duduk di atas bis. lebih terkesima lagi, ketika aku dengar pelantun takbiran mayoritas adalah anak-anak kecil. jarum jam menunjukkan angka 10.12 semalam ini, anak-anak kecil masih berkeliaran di jalanan ibu kota? Kok orang tua tidak mengkhawatirkan anak-anak berkeliaran di jalan hingga larut malam?
bukan itu saja, selain suara takbir, aku juga mendengar suara kembang api dan petasan silih berganti… inilah yang membuatku resah…sekalipun pemerintah dari tahun ke tahun mengeluarkan larangan penjualan petasan, dan sekalipun dari tahun ke tahun ada saja korban karena petasan, tetap saja lebaran diwarnai dengan petasan. Bukan petasannya yang aku permasalahkan, tetapi yang mengusik pikiranku adalah…. apa artinya puasa sebulan jika di malam tahun baru membuat resah orang dengan menyalakan dan melemparkan petasan ke jalan-jalan? Aku masih teringat bagaimana anak-anak dengan sengaja senang melemparkan petasan ke arah orang yang sedang berjalan kaki, atau ke rumah rumah penduduk… bukankah malam yang fitri itu sebaiknya di isi dengan kegiatan yang benar-benar bermanfaat sesuai dengan nama malam itu??? Seandainya malam takbiran menjadi malam perenungan, tentunya akan lebih bermakna…ketimbang selebritas konyol yang hanya memuaskan nafsu semata, yaitu menikmati kesenangan sekejab ketika orang lain begitu cemas dengan petasan-petasan yang mereka lemparkan??? Akupun menutup jendela dengan membawa seribu tanya yang tak kutemukan jawabnya…. hanya doa dan harapan, semoga bangsa ini dari tahun ke tahun boleh menjelma menjadi bangsa yang penduduknya lebih bijak hidup dan bersosialisasi..bukan menjadi homo homini lupus…. yang mayoritas menekan dan menunjukkan arogansinya pada yang minoritas, yang kuat menekan yang lemah…

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s