BERTUMBUH DALAM KARAKTER KRISTEN Bab 4 kelas 10


Kompetensi Dasar:

Mengalami proses pertumbuhan sebagai pribadi yang dewasa yang memiliki karakter yang kokoh dengan pola pikir yang komprehensif dalam segala aspek

Indikator:

1)      Menjelaskan yang dimaksud dengan karakter dan karakter Kristen.

2) Pentingnya setiap orang percaya bertumbuh dalam karakter Kristen

3) Siswa mengevaluasi pertumbuhan karakter Kristen

Referensi Alkitab:

Ef 4:15-17, 1 Yoh 3:10, Gal 5:

Pengantar

Efesus 4:15 mengingatkan pentingnya setiap orang yang percaya kepada Kristus untuk terus bertumbuh dalam segala hal ke arah Kristus. Pertumbuhan tersebut mencakup perubahan pola pikir, yang akan berpengaruh pada perubahan perilaku dan karakter.

Apakah yang dimaksud dengan karakter Kristen? Mengapa kita perlu bertumbuh dalam karakter? Bagaimana kita bisa bertumbuh dalam karakter Kristen?

A. Karakter Kristen

Wikipedia menggambarkan karakter sebagai sifat manusia pada umumnya, seperti pemarah, sabar, pemaaf, dan sebagainya. Maka karakter Kristen adalah sifat yang seharusnya ada pada seorang Kristen. Sifat yang bagaimanakah yang seharusnya ada pada diri seorang Kristen?: Ef 4:15 mengarahkan kita yaitu kita harus bertumbuh dalam segala hal (termasuk karakter) ke arah Kristus. Dengan demikian, maka kita perlu mewarisi dan menyatakan sifat-sifat Kristus dalam hidup kita. Ini adalah hal yang sewajarnya, karena ketika kita percaya dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, kita disebut sebagai anak-anak Allah. Seorang anak tentunya mencerminkan sifat orang tuanya.

B. Alasan perlunya bertumbuh dalam karakter Kristen

Sebuah peradaban akan menurun apabila terjadi demoralisasi pada masyarakatnya. Nilai-nilai moral yang diajarkan akan membentuk karakter (akhlak, sifat) mulia yang merupakan fondasi penting bagi terbentuknya sebuah tatanan masyarakat yang beradab dan sejahtera.  Lord Channing mengatakan ‘The great hope of society is individual character’. Sebagai anak bangsa kita berpikir dan bertanya ‘Kenapa dalam sekejab bangsa ini menjadi bangsa yang terpuruk dan kehilangan harga diri? Krisis multidimensi yang berkepanjangan ini sebetulnya mengakar pada menurunnya kualitas moral bangsa yang dicirikan oleh membudayanya praktek KKN, konflik, meningkatnya kriminalitas, menurunnya etos kerja, dan banyak lagi.

Hubungan antara aspek moral dengan kemajuan bangsa juga dikemukan oleh Thomas Lickona, seorang professor pendidikan dari Cortland University. Ia mengungkapkan[i] bahwa ada sepuluh tanda zaman yang harus diwaspadai, karena jika tanda-tanda itu sudah ada, maka berarti sebuah bangsa sedang menuju jurang kehancuran. Tanda-tanda tersebut adalah: 1) meningkatnya kekerasan di kalangan remaja, 2) penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk, 3) pengaruh peer grup yang kuat dalam tindakan kekerasan, 4) meningkatnya perilaku merusak diri seperti penggunaan narkoba, alcohol dan seks bebas, 5) semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk, 6) menurunnya etos kerja, 7) semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru, 8) rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara, 9) membudayanya ketidakjujuran, 10) saling curiga dan kebencian di antara sesama. Jika diamati, kesepuluh tanda tersebut ada di Indonesia. Contoh:

Meningkatnya kekerasan di kalangan remaja:

  • Data Polres Metro Jaya, 1998, di Jakarta tercatat 130 kasus tawuran (13 meninggal, 34 luka berat, 108 luka ringan)
  • Trans TV hari senin pukul 08.00 tanggal 26 Maret 2007, yakni “Terjadi perkelahian massal antara SMK Kartika Jaya dan SMK 4 yang juga melibatkan sejumlah mahasiswa. Sejumlah pelajar menyebutkan perkelahian ini terkait dengan perselisihan antarpelajar yang terjadi sebelumnya.”
  • Kumpulkan data terbaru mengenai fakta kekerasan di kalangan remaja, terjadi peningkatan ataukah penurunan? Apakah penyebabnya?

Meningkatnya perilaku merusak diri

  • Data dari 5 SMK-TI di Bogor[ii] menunjukkan hasil 30,3% terlibat minuman keras, 27% sampai mabuk, 15,4% pecandu narkoba, 34,6% berjudi/taruhan, 68% menonton film porno, 3,2% pernah melakukan hubungan seks.
  • Bagaimana halnya dengan remaja di lingkungan kamu?

Menurunnya etos kerja

  • Data dari 5 SMK-TI Bogor menunjukkan 87% sering tidak mengerjakan PR, 75% sering membolos, 33% keluyuran dengan kawan waktu jam sekolah, 57% gemar duduk-duduk di pinggir jalan.
  • Bagaimana halnya di lingkungan sekolahmu? Berapa persen menghabiskan waktu untuk facebook, games online, sms, chatting dibandingkan dengan mengerjakan PR, belajar walaupun tidak ada ulangan, membaca Alkitab?

Mengapa kita perlu bertumbuh dalam karakter Kristen? Berikut ini adalah beberapa alasan yang perlu kita renungkan:

  1. Allah menghendakinya (Ef 4:15).
  1. Kita adalah anak-anakNya  (1Yoh 3:10, Ef 4:17)

Jika kita disebut sebagai anak-anak Allah, apakah sifat kita memang juga mencerminkan sifat-sifat Allah? Matius mengatakan ‘Karena itu haruslah kamu sempurna, SAMA SEPERTI Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” Jelas sekali, Matius mengajarkan agar kita mewarisi dan menyatakan sifat-sifat Allah Bapa dalam kehidupan kita. Jika Bapa itu sempurna, maka anak harus sempurna, jika Bapa itu baik, maka anak seharusnya juga baik, jika Bapa itu adil dan tidak memandang muka, maka seharusnya kita juga adil dan tidak memandang muka, dan seterusnya.

  1. 3. Agar bisa saling melayani dan menjadi berkat (Ef 4:16). Kita dipanggil untuk menjadi garam dan terang dunia. Di tengah arus jaman yang demikian bengkok, dunia sekeliling kita membutuhkan sosok-sosok manusia dengan kepribadian dan karakter yang unggul dan mampu memimpin serta memberi pengaruh positif bagi lingkungannya. 1 Timotius 4:12  mengingatkan ‘Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.’ Ayat ini berbicara mengenai karakter. Seorang muda bisa menjadi teladan (dan dengan demikian ia menjadi berkat) bagi lingkungannya, dengan menunjukkan karakter Kristen sejati seperti kasih, setia, suci.

C. Membentuk Karakter Kristen

Membentuk karakter tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Sebuah pepatah mengatakan, jika kamu melakukan suatu hal tertentu yang sama selama 21 hari maka kamu akan menuai kebiasaan. Kebiasaaan yang berkelanjutan akan membentuk sebuah karakter. Maka, pembentukan karakter adalah suatu proses yang dimulai dari adanya suatu pemahaman (membuka wawasan, memperbaharui akal budi – Rom 12:1-3), dilanjutkan dengan melakukan apa yang dipahami, dan melakukan secara berulang-ulang dengan konsisten.

  1. Membuka wawasan, memperbaharui akal budi

Apakah yang perlu kita pahami dalam pembentukan karakter Kristen? Pembentukan karakter Kristen adalah pembentukan identitas kita sebagai seorang Kristen. Telah dibahas salah satu alasan kita perlu mengembangkan karakter Kristen, yaitu karena kita adalah anak-anak Allah. Maka kita harus bertumbuh menjadi semakin serupa Dia. Dalam hal ini kita bisa meneladani Kristus (Fil 2:3-4), belajar berpikir dan bertindak seperti Kristus berpikir dan bertindak ketika Ia berada di tengah dunia ini.

Kita diciptakan serupa dan segambar dengan Allah, maka sebagai ciptaan baru kita perlu mencerminkan sifat-sifat Allah dalam kehidupan kita. Hidup baru atau ciptaan baru dalam Gal 2:20 dijelaskan meninggalkan masa lalu dan menjalani kehidupan baru yang arah dan tujuannya berbeda. Gal 5 membimbing kita agar kita tidak lagi hidup mengikuti keinginan daging tetapi keinginan Roh. Dengan cara demikian kita akan menghasilkan buah Roh yang Allah ingin lihat itu ada dalam kehidupan setiap anak-anakNya.

Dengan demikian, jika kita mau membentuk karakter Kristen dalam hidup kita, kita perlu belajar mengenal Tuhan lebih dalam lagi. Mengenal pribadiNya, pikiran-Nya, kehendak-Nya, semuanya itu bisa kita lakukan ketika kita melalukan pembacaan dan perenungan Firman Tuhan dalam hidup sehari-hari.

2. Melakukan apa yang dipahami.

    Tahu sesuatu, tidak identik dengan menjadi sesuatu. Ketika kita membaca Firman Tuhan, maka kebenaran itu memerdekakan kita. Tetapi kita hanya benar-benar merdeka, ketika kita melakukan Firman Tuhan dalam kehidupan kita. Dengan cara demikian kita menyatakan melawan daging dan tunduk kepada pimpinan Roh. Sehingga, kitapun terbebas dari keinginan daging yang mencoba menguasai kita (Gal 5:16-18).

    Nah, bagaimana kita belajar melakukan apa yang kita pelajari dari Firman Tuhan? Pertama, belajar menyangkal diri di dalam kesulitan. Ketika ada kesulitan menghimpit, belajar untuk tidak membicarakannya kepada orang lain terlebih dahulu, melainkan harus menyangkal diri. Belajarlah untuk menanggung kesulitan itu sendiri. Jika kesulitan itu benar-benar tidak bisa kita atasi, kita boleh menceritakan (berbagi) kepada orang lain. Jika memang tetap tidak bisa, berdoalah kepada Tuhan dan percayalah Ia akan memberikan kekuatan ekstra kepada kita untuk menghadapi kesulitan itu.

    Kedua, belajar memperhatikan orang lain. Di dalam kesulitan dan dalam segala hal, biasakan untuk tidak mencari perhatian dari orang lain, tetapi justru memberi perhatian kepada orang lain. Orang yang karakternya dewasa segera tanggap ketika mereka mengetahui orang lain sedang kesusahan, misalnya dengan memperhatikan mereka baik dari segi kesehatan, dana, dll. Sedangkan orang yang karakternya tidak dewasa terus-menerus mencari perhatian dari orang lain, misalnya dengan keantikan pribadinya, misalnya berbicara sendiri ketika khotbah disampaikan, dll.

    Ketiga, belajar tidak memiliki kepribadian ganda tetapi belajar hidup berintegritas. Setelah belajar memperhatikan orang lain, kita harus belajar juga untuk tidak berkepribadian ganda. Ketika di gereja, muka mereka tampak alim ), “rohani” seperti malaikat di luar gereja, mereka lebih mirip seperti setan, licik, jahat, menipu, dll. Ketika membantu seseorang di gereja, orang Kristen bisa tampak sangat agresif, menolong sini sana, dll, tetapi ketika keluar dari gereja, orang Kristen yang sama membicarakan kejelekan orang yang ditolongnya. Bukan hanya itu saja, kepribadian ganda orang Kristen ditandai dengan kemunafikan mereka. Kepada orang lain, mereka mengajar bahwa kita tidak boleh meniru kejelekan orang lain, tetapi anehnya, ketika mereka sendiri terlambat datang beribadah di gereja, mereka berdalih bahwa jemaat lain juga ada yang terlambat  Apa yang kita ajarkan dan katakan, hendaklah kita sendiri yang mempraktekannya sendiri.


    [i] Lickona, T. Educating for Character, How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. (New York: Bantam Books, 1992)

    [ii] Dina, Wahyu Farrah, et.al. ‘Tawuran Pelajar SMK-TI di kota Bogor: Faktor Pendorong dan Faktor Penyebabnya’, Laporan Penelitian Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, 2001.

    About these ads
    Tulisan ini dipublikasikan di Bahan PAK tingkat SMU. Tandai permalink.

    Berikan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s